RSUD Dr (HC) Ir Soekarno dan RSCM Gelar Operasi Tumor Otak

MERAWANG, BANGKA – Lagi, Kepercayaan Pemerintah Pusat diberikan kepada Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bangka Belitung (Babel). Untuk kali ini, kepercayaan itu diberikan melalui Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr (HC) Ir. Soekarno bekerjasama dengan RSU Pusat Nasional Dr. Cipto Mangonkusumo (RSCM) Jakarta, dengan menggelar Operasi Tumor Otak.

Operasi craniotomy terhadap pasien wanita berusia 46 tahun asala Payung Bangka Selatan ini, dimulai pada Kamis (24/8/2017), dan dilakukan oleh Tim Bedah RSUD Dr (HC) Ir. Soekarno yang dipimpin dokter spesialis bedah saraf, dr Ferry Kurniawan, Sp.BS, didampingi dokter konsultan dari bagian bedah RSCM Jakarta, dr. David Tandean, Sp. BS.

Selanjutnya, pada Jumat (25/8/2017), di RSUD Ir. Soekarno, juga akan dilakukan Operasi Benjolan Tulang belakang lipomyeleomeningocele kepada anak laki-laki umur 9 tahun asal Muntok Bangka Barat.

Direktur RSUD Ir Soekarno, dr. Lucia Shinta Silalahi dalam saat menggelar Jumap Pers sebelum pelaksanaan Operasi Bedah Tumor Otak, mengatakan, pelaksanaan Operasi Bedah Tumor Otak ini, merupakan tindak lanjut dari MoU antara Gubernur Babel. Dr. H. Erzaldi Rosman, dengan Direktur Utama RSCM Jakarta, Heriawan Sujono spesialis penyakit dalam tentang pengampuan Sister Hospital.

Jadi, kata dia, Kemenkes telah menetapkan rumah-rumah sakit vertikalnya untuk bisa mengampu rumah sakit-rumah sakit daerah yang dikategorikan sebagai rumah sakit rujukan, khususnya rujukan provinsi, agar bisa lebih mampu dalam pelayanan rujukan didaerahnya masing-masing.

“Kami mulai menganggarkannya untuk anggaran perubahan tahun 2017 ini, namun karena situasi dan kondisi yang mendesak, ada pasien yang datang, jadi satu diantaranya yang operasi asalnya dari Payung Bangka Selatan masuk ke sini sudah tidak sadarkan diri, dan cukup gawat, harus ditangani, kemudian ada anak-anak, untuk operasi tulang belakang dari Muntok Bangka Barat, kami segera berkoordinasi dengan RSCM, bagaimana untuk hal ini,” terang dr. Lucia.

“Menurut dokter david, sebenaranya kasus ini adalah pelayanan spesialistik dan memang semestinya dikerjakan oleh rumah sakit selevel RSCM, dimana dokter-dokter spesialisnya sudah cukup banyak,” sambung dr. Lucia.

Jadi, karena tidak memungkinkan untuk dirujuk ke RSCM, karena cukup padat, walaupun belum sampai waktunya, kata dr. Lucia, dr David berkenan untuk hadir di RSUD Soekarno, agar bisa membantu pelaksanaan pasien ini, dengan harapan mudah-mudahan bisa membawa kesembuhan bagi pasien bersangkutan.

“Bagi kami sendiri, walaupun operasi ini merupakan kegiatan rutin, namun cukup bersejarah, karena levelnya adalah level besar. Dimana saya sangat mengharapkan tim bedah saraf dari RSUD Soekarno, bisa betul-betul mendapatkan pelajaran dengan baik dalam penanganan ini, karena langsung dari ahlinya,” ungkap Lucia.

Untuk sementara, Operasi ini, dikawal dengan jejaring hospital RSCM. “Namun, diharapkan kedepan SDM-SDM kita bisa menjadi sub spesialis juga. Dan kita juga bisa mengerjakan operasi-operasi semacam ini dengan sendirinya. Karena seperti yang sudah sering saya katakan bahwa unggulan dari rumah sakit ini adalah akan menjadi pusat rujukan untuk jantung dan otak,” jelas Lucia.

“Saya mohon dukungan dari semua pihak terhadap kegiatan rumah sakit ini, supaya rumah sakit ini bisa menjadi rumah sakit rujukan di Provinsi Babel. Saya juga berharap RSUD Ir. Soekarno bisa segera naik level, dari C ke B,” katanya.

Dalam kesempatan sama, Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Babel, drg. Mulyono mengatakan, atas nama Pemprov Babel, mengucapkan terima kasih khsusunya kepada RSCM yang telah menindaklanjuti program kerjasama Sister Hospital ini, sehingga memungkin untuk menugaskan tenaga yang sangat dibutuhkan di RSUD Soekarno.

“Tentunya ini luar biasa bagi masyarakat Babel. Bisa dibayangkan kalau kita rujuk ke RSCM Jakarta berapa biaya yang harus dikeluarkan. Dan ini, kesempatan pertama kita mendapatkan fasilitas seperti ini,” sebut Mulyono.

Harapan kedepan, lanjut Mulyono, RSUD Soekarno ini, menjadi rumah sakit rujukan provinsi dan bisa melayani kegiatan-kegiatan seperti ini. Memang, ini butuh fasilitas, peralatan yang memadai.

“Saya bersukur, kasus ini sudah ditinjau, memungkin sekali untuk dilakukan di RSUP Babel. Jadi, tidak bearti ini dibawah standar, ini sama standarnya dengan dilakukan di RSCM, ini kami tekankan. Karena kalau dibawah standar kami pun tidak mau. Artinya, dari segi fasilitas, peralatan sudah memungkin, hanya dari sisi tenaga kita butuh tenaga yang sub spesialistik,’ ungkapnya.

Spesialis Saraf, dr Ferry Kurniawan, Sp.BS, yang juga hadir dalam kesempatan itu, menyampaikan terima kasih atas ijin yang diberikan kepada pihaknya, untuk melakukan bedah saraf yang levelnya sudah canggih ini.

Rencananya, kata dia, kedepan dua minggu sekali akan datang dokter konsultan bedah syaraf ke RSUD Ir Soekarno. Sehingga pasien bisa dikumpulkan, nanti sesuai tema atau topiknya apakah tentang tumor, tulang belakang atau lainnya. “Mudah-mudahan masyarakat Babel bisa terbantu, sehingga biayanya kecil, tidak menunggu lama,” ujar dr. Ferry.

Sementara itu, dokter konsultan dari bagian bedah RSCM Jakarta, dr. David Tandean, Sp. BS, mengaku senang bisa datang ke Babel. “Sebetulnya saya datang kesini bukan yang pertama kali, saya juga sempat melihat fasilitas di rumah sakit ini, dan ternyata fasilitasnya tidak kalah dengan RSCM. Kalau kita lihat dari fasilitas bedah syaraf di RSUP Babel, itu hampir sama dengan RSCM,” tegasnya.

“Dokter saraf Ferry, yang dimiliki RSUD Soekarno ini, memiliki ahli yang sama dengan saya dokter bedah syaraf di RSCM. Hanya bedanya saya kebetulan beruntung menangani banyak kasus-kasus di RSCM,” ungkap dia.

Dokter David mengungkapkan, Ia sudah bicara dengan Dirut RSCM Jakarta, bukan tidak mungkin RSUD Soekarno ini menjadi pusat, bukan hanya di Babel saja, tapi juga dari provinsi-provinsi sekitarnya bisa dikirim ke Babel, nanti diatur dengan BPJS nya.

Boleh dianggap rumah sakit ini, satelitnya RSCM, atau satelit pusat yang lain. Sehingga beban di RSCM tidak seperti saat ini. Karena untuk witinglist bedah saraf di RSCM cukup banyak. Sedangkan di RSCM juga belum cukup untuk menangani kasus dengan cepat, sehingga penanganan kasus tertunda sekian lama.(humasprov).

Sumber: 
HumasProv
Penulis: 
Heppy/Ahmad
Fotografer: 
RSUD/Heppy
Editor: 
Ahmad. S