Mengenal Pain Management yang Dikembangkan Manajemen RSUD Soekarno Babel

Deklarasi Montreal di Kanada tahun 2010 menyerukan bahwa kemerdekaan dari rasa nyeri adalah hak asasi fundamental manusia.

World Health Organization (WHO) sebagai lembaga kesehatan dunia sekarang memasukan kualitas rasa nyeri sebagai tanda vital utama. Program layanan terpadu bebas nyeri atau Pain Management di RSUD Soekarno dikenal dengan singkatan PLAT BN. Yakni program inovasi untuk pelayanan nyeri secara terintegrasi.

PLAT BN adalah inovasi di bidang kesehatan yang diinisiasi oleh Direktur dan manajemen RSUD Soekarno. Sebagai salah satu layanan kesehatan unggulan untuk membantu masyarakat dalam menangani keluhan rasa nyeri.Seluruh pendekatan untuk penanganan nyeri berupa :
Pertama, tatalaksana non farmakologis. Kedua, farmakologis untuk nyeri yang bersifat akut atau kurang dari 3 bulan, maupun untuk nyeri kronis lebih dari 3 bulan.Ketiga, intervensi nyeri di titik sumber nyeri pain generator dengan panduan alat canggih berupa USG maupun Flouroskopi C-Arm.Dan yang keempat tindakan operasi pada organ atau jaringan penyebab nyeri dapat dilakukan secara holistik di layanan kesehatan ini.

Multidisiplin ilmu

Program layanan terpadu bebas nyeri memiliki empat keterpaduan yang pertama adalah terpadu secara sumber daya manusia yang kedua terpadu secara sistem rujukan yang ketiga terpadu secara jenis layanan dan yang keempat adalah terpadu secara dimensi kesehatan.Terpadu secara sumber daya manusia, tenaga medis berkolaborasi interprofesi secara holistik dari banyak multi disiplin spesialis. Ada spesialis anestesi, spesialis bedah saraf, rehabilitasi medik ortopedi dan spesialis yang lain seperti penyakit dalam, jantung, paru serta tenaga perawat, bidan, penata anestesi termasuk radiografer.Keterpaduan yang kedua adalah terpadu sistem rujukan berjenjang dari Puskesmas dirujuk ke rumah sakit tipe C dan Rumah Sakit Provinsi sebagai rujukan rumah sakit tipe B. Kalau kemudian tidak mampu, petugas bisa menghadirkan rujukan dari rumah sakit tipe A melalui program sisters Hospital dari RSCM bahkan pernah mendatangkan dari Mastric University dari Belanda.Keterpaduan yang ketiga adalah terpadu secara jenis layanan. Saat ini ada 4 jenis layanan secara holistik yang pertama adalah tanpa obat dengan fisioterapi. Kedua, dengan obat dan yang yang ketiga dengan intervensi nyeri yaitu menggunakan alat C-Arm USG untuk menginjeksi atau menutup sumber rasa nyeri pain generator langsung di pusatnya.Yang keempat adalah operasi jika memang setelah intervensi tidak ada perbaikan.Nah yang keempat kebaruannya inovasinya adalah dimensi kesehatan
Dimensi kesehatannya meliputi promotif preventif kuratif rehabilitatif sampai dengan paliatif atau pengobatan pada pasien pasien kanker yang sudah mengalami stadium akhir.

Jumlah pasien meningkat

Jumlah pasien yang ditangani di RSUD Soekarno meningkat dari tahun 2018 -2019. Pada 2018 tindakan operasi ada 167 dari total 833. Di tahun 2019 meningkat menjadi 203 pasien yang datang dari Palembang, Bengkulu Jakarta Surabaya dan terutama banyak dari daerah Bangka Belitung.Keterpaduan ini membuat mereka merasa nyaman karena begitu datang langsung jadi one stop shopping dilayani secara banyak, tidak perlu pergi ke mana-mana secara terpisah.Merujuk data di tahun 2019, ada empat diagnosis nyeri yang masuk dalam 10 penyakit terbanyak. Low Back Pain di peringkat pertama, nyeri sendi di peringkat kedua, nyeri yang menjalar di peringkat ketujuh dan nyeri perut diperingkat yang kesembilan.Padahal di tahun-tahun sebelumnya diagnosis nyeri tidak banyak yang masuk di 10 pasien terbanyak di rumah sakit ini.Ini adalah bukti signifikan dampak yang baik untuk kemanfaatan pada masyarakat.

Sumber: 
https://infobabel.id/pemerintah/mengenal-pain-management-yang-dikembangkan-manajemen-rsud-soekarno-babel
Penulis: 
ADMIN INFOBABEL
Editor: 
ADMIN INFOBABEL